My September, My Aging and My Rethinking Month..
Posted by cozyann1974 on September 3, 2007
Ada sesuatu yang menggelitik setiap kali saya memasuki bulan September. Memperhatikan suatu tanggal yang dilingkari setiap tahunnya di sana, tak urung (selalu) membuat saya menarik nafas panjang, suatu bahasa tubuh saya bila sedang merasakan suatu rasa gundah. September, bulan menjelang musim penghujan, bulan saya dilahirkan dan di mana tahun tahun berikutnya saya bertambah umur. So, ada apa dengan momen ulang tahun ini? Kenapa menjadikan gundah? Pikiran saya mulai mencari, mencerna, dan mulai tercetus untuk memaknainya secara berbeda, mulai tahun ini, 2007. Tahun dimana saya meraih umur angka kembar yang ketiga, 33 tahun.
Saya mulai dengan mengingat ulang tahun – ulang tahun di 20 tahun kehidupan pertama saya. Saat itu, September adalah bulan yang selalu dinantikan. Ketika memasuki minggu pertama September, saya sudah merasakan excitement, dengan pikiran “nih, asyik banget.. sebentar lagi aku ulang tahun”. Pikiran ini memaknai momen tersebut dengan rasa “I am growing up, saya mulai tumbuh, saya bukan anak anak lagi, saya sudah besar, saya akan bisa melakukan ini, melakukan itu..” Perasaan yang timbul adalah rasa bahagia dan BANGGA. Hidup mulai bertualang.
Lalu waktu bergulir, saya menjalani ulang tahun – ulang tahun di usia 21 sampai dengan 30. Tahun tahun saya di usia 21 sd 25, konsep pemaknaan yang dirasa: “This is still fun”. Meninggalkan bangku kuliah, meraih masa masa awal bekerja, yang dijembatani dengan bertambahnya usia membuat tumbuhnya pemaknaan “peningkatan rasa percaya diri, sikap mandiri, kesiapan menghadapi hidup”. Hari hari ini ditandai dengan perubahan pola hidup dari masa muda anak kuliah menjadi masa muda yunior dalam kerja. Hidup sangat dinikmati, diiringi dengan konflik cinta dan penetapan diri, merumuskan akan ke arah mana hidup kita ini dibawa, baik dalam hal karir, cinta, teman, lingkungan dan keluarga. Kita mulai menjadi “bos” untuk diri kita sendiri. Petualangan masih berjalan.
Memasuki ulang tahun – ulang tahun di usia 20-an akhir, terjadi proses pematangan dalam berpikir dan bersikap. Didorong oleh posisi karir dalam kerja yang mulai mapan, hubungan cinta yang bukan lagi “having fun” tapi “headed to create a family”, lingkungan yang juga memperlihatkan kecenderungan kehidupan yang sama, mapan namun semakin kompleks. Dimaknai kompleks, karena saya mulai menentukan TARGET, dalam cinta misalnya, saya mulai menentukan pasangan akhir dengan menentukan tanggal pernikahan (:) ), dalam karir misalnya saya mulai menetapkan bulan anu tahun anu saya ingin menjabat jabatan anu. Dalam kehidupan berkeluarga, mulai “shared”, target diri terbagi ke dalam target keluarga: suami dan anak (sebagai anggota baru kehidupan saya).
Berikutnya, inti dari tulisan saya ini, ulang tahun – ulang tahun dalam usia 30-an. Tahun 2004, saya sempat tersentak kaget, tersadar, ah.. saya sudah kepala 3. Waktu. Sesuatu yang telah mengantarkan dan tidak mengembalikan. Tahun 2006, saya sempat phobia dengan usia. Tuhan, saya masih ingin seperti usia 20-an, tapi kenapa sekarang sudah saya sudah tua?? Saya ngeri, saya takut, saya sadar, ternyata saya takut tua. Picik? Ya, sangat..
Apa yang saya takutkan dengan “penuaan atau aging” itu? Pertama, fisik. Tapi ketakutan akan faktor ini tidak terlalu dominan, saya yakin fisik seperti bangunan, bila senantiasa dipelihara akan tetap kokoh dan menarik. Walau tetap juga saya perhatikan: kerut di bawah mata saya, uban di rambut saya, ciri fisikal yang (juga) cukup menakutkan.
Kedua, bentrokan spirit. Masih banyak petualangan yang ingin kita lakukan, masih sangat banyak. Ternyata usia membatasi, baik membatasi nyali, kepercayaan diri, juga kemampuan diri. Misal, di usia 20an, mendaki gunung bisa terlaksana mudah, saat ini semua mungkin butuh konsiderasi lebih, terutama ke arah pemulihan ketiga faktor pendukung tadi.
Ketiga, faktor “shared item”, we’re not belong to ourself anymore, kita dimiliki suami, anak, pekerjaan, dan semua yang membatasi dalam konteks penguasaannya terhadap diri kita.
Keempat, faktor evaluasi diri. Saya mulai memperhitungkan apa yang saya sudah raih. Jujur bila saya melihat ke arah orang lain seusia saya, teman ataupun lingkungan lainnya, apa yang mereka raih menjadi acuan dan motivator. Sehingga dengan berulang tahun, saya selalu berpikir, misal wah saya 32 nih, orang lain umur segini dah punya anu anu anu, trus saya sudah punya belum? Ugh.. stres meningkat, uban tambah banyak (mabluk kalau pinjam istilah suami saya).
Kelima, mungkin agak aneh karena terdengar kurang tawakal, tapi dengan berulang tahun, saya mulai merasakan berkurangnya masa usia dan kesempatan saya hidup. Saya semakin mendekati ke arah saat mati saya. Dan demi Allah saya takut. Takut akan kehilangan kehidupan saya ini dan takut akan kematian dan di dalam kematiannya itu sendiri. Tidak tawakal?? Ya, sangat..
September 2007, mulai mengakhiri dan mengawali. Saya harus akhiri aging phobia ini. Saya harus mulai menikmati penuaan secara positif.
Sebelum tanggal yang dilingkari itu tiba, saya mempersiapkan diri. Saya tidak boleh masih dalam kurungan phobia yang sama. Have to free myself. Saya menyadari, saya masih membutuhkan bantuan untuk itu. Tapi paling tidak, beberapa hal saya coba lakukan. Pertama, berpikir positif terhadap aging. Itu dasar dari semuanya. Bahwasanya tidak ada gunanya kita bertahan terhadap sesuatu hal yang tidak akan diam. Wrong ressistance. Mulai positif thinking, “hey.. bukan kamu aja kok yang tambah tua, si anu, si anu, si anu juga..”, so as them, kita semua reform. Di hari ulang tahun nanti, saya akan tertawa bersama semuanya, hey… kita tambah tua ya..
Kedua, positive evaluation manner. Kita tetap melakukan evaluasi pencapaian diri. But we do it in smooth way. Bahwasanya target itu harus tetap ada, untuk penyemangat hidup dan acuan sikap dan pemikiran. Tapi pelaksanaannya tidak sebagai penimbul rasa iri yang mengakibatkan stress. Sekali lagi PASRAH dan TAWAKAL adalah dua kata yang membatasi, memberi pemahaman bahwasanya kita tetap manusia biasa. Sangatlah wajar untuk tidak selalu mencapai cita cita dan keinginan, sebagai alat dari Tuhan bahwa kita adalah mahluk yang TERBATAS, sehingga kita tetap sadar diri, berpijak di tanah, mawas diri dan rendah hati. Pada prakteknya, saya saat ini telah menentukan target target hidup yang ingin saya capai, tapi bermodalkan sesuatu yang TELAH ada di tangan, bukan target yang terlalu jauh sehingga tidak tercapai. Di ulang tahun 2007 ini, sesuatu telah saya tulis dengan tinta dalam hati, apa apa saja hal penting yang paling dekat untuk saya lakukan.
Ketiga, rasakan positif tentang kehidupan kita yang harus dibagi dengan orang lain, dengan menyadari bahwa mereka pun membagi hidupnya dengan saya. Bahwasanya suami misalnya, mengurangi masa masa petualangannya karena ada saya sebagai istri yang harus ditemui dan diajak berbagi di rumah. Rasakan positif pula dengan rasa beruntung bahwa kita tidak (belum) kehilangan mereka. Lihatlah para janda yang kehilangan suaminya, maka saya bersyukur saya masih memiliki suami (walau pun saya harus share hidup saya dengan dia), dan yang lainnya. Di ulangtahun 2007 ini, saya akan memeluk dan dipeluk anak-anak, suami, teman, kerabat, orang tua, dan semuanya yang juga membagi hidupnya untuk saya.
Last but not least, terakhir namun di atas semuanya, mendekatkan diri pada Allah SWT dan memperbanyak bekal batin kita, ternyata memupuk kesiapan untuk bertambah usia, menjadi tua, dan akhirnya mati. Dan tidak lebih dari ulang tahun 2007 saya nanti, segala yang wajib, saya harus tambah dengan yang sunat, segala yang dulu saya lakukan karena saya rasakan sebagai kewajiban pada Allah SWT, semoga menjadi sesuatu yang saya lakukan karena KECINTAAN pada Nya, sehingga tidak ada rasa terpaksa ataupun takut, tapi berubah menjadi rasa membutuhkan. Amin.
September 2007. Semoga bukan menjadi bulan phobia.
September 2007. Untuk angka kembar usia berikutnya: 33 tahun.
Dan semuanya untuk mengalir dengan indah, dalam hidup sepanjang usia. Waktu berjalan untuk kita, tidak untuk menjadi tua, karena tua hanyalah tentang angka. Waktu berjalan untuk kita, menunjukan kefanaan, setelah awal akan ada akhir. Dan semoga didalamnya, kebaikanlah yang tidak berakhir.
Tasikmalaya, September 2007.




dicky s satarman said
jujur aja sayang… a tidak takut mnjadi tua, a takut akan ada d mana a setelah MATI..
newadiew said
Amiin, may all your wishes will be true.
one thing, You (we) should proud of being older that Allah given is we had been younger.
hanna said
Hi3…
Kalo hanna begini,nih.Setiap memandang ke cermin tentu mendapati diri ini mengalami perubahan yang besar, salah satunya ya tambah tua.Tapi , dalam hati hanna selalu tersimpan sekeping hati yang muda.Dengan begitu hanna tidak pernah merasa tua, he he.
Maghfira Mimi said
Hayo An…semangat dong mba jadi ingat ada satu kalimat motivasi yg memacu yaitu: Yang dinamakan panjang umur adalah kaya akan pengalaman,banyak pengetahuan,dan mempunyai segudang ilmu. Setiap hari yang anda lalui,anda mendapatkan pelajaran mengenai seni kehidupan. Panjang umur adalah BERKAH bagi orang-orang yang berakal. Nah sambutlah angka kembarmu ditahun ini dengan lebih semangat lagi. Oke?